Sabtu, 02 Juni 2012

Wanita berjaya


Oleh. Rijal A. Mohammadi
Hingar bingar pemilu mulai datang, semua yang dahulu biasa saja menjadi luar biasa dengannya. Wajah-wajah yang dahulu manis kini menjadi suram. Tak tahu apa maksudnya, apa semua politik kampus harus diliputi dengan kesuraman atau mungkin semua tentang permusuhan? Semua tentu tidak, silaturrahmi dan persahabatan akan terus ada sampai akhir menutup mata (walau seperti nyanyian). Sebuah pembelajaran yang dibarengi dengan rasa tanggungjawab yang membahana seharusnya ada pada diri politikus muda kampus ini. Teringat saat penurunan orde lama oleh segenap mahasiswa yang saat itu serentak mengatakan tidak pada korupsi, dihianati oleh perkataan-perkataan halus nan imut seakan meminum ludah mereka sendiri saat mereka merasakan kenyamanan duduk dan bertengger dikursi perwakilan rakyat.
Harapan umat ketika suatu golongan mahasiswa bersemangat dalam pemilu kampus adalah dapat mengimplementasikan ilmu-ilmu murni yang pro orang cilik keIndonesia yang berkemajuan. Terlihat partai A-Z mengoar-ngoarkan janji-janji  palsu yang menjadi pemuas nafsu semata, seperti slogan penipu rakyat, lebih berpengalaman, teruskan, perbedaan menjadi satu, dll. Seolah mereka belajar menjadi penipu ulung yang siap ditembakan ditengah-tengah masyarakat. Bukankah Islam telah mengajarkan kepada kita menjadi pemimpin dimanapun harus berlandaskan Shidiq, Amanah, Tablig, dan Fathonah. Tidak memandang dari kalangan mana atau harus laki-laki atau perempuan.
Serasa menjadi dogma-dogma yang terpendam dalam otak bawah sadar kita, bahwa perempuan memimpin selalu menggunakan perasaan, dan laki-laki selalu menggunakan emosi. Kelemahan itu seraya didampingi dengan munculnya golongan-golongan feminis, yang menunjukan pembelaan terhadap kaum feminis yang tersisihkan atau mungkin menjadi nomor dua. Melihat realita tak semudah dengan apa yang kita ucapkan. Sampai kapan kita terlena dengan ucapan dan lidah palsu pemimpin terdahulu, dan kapan kita mulai belajar dari pemimpin-pimimpin terdahulu yang gagal akan kepemimpinannya, Soekarno dengan keotoriterannya begitupun dengan  Soeharto, Habibie dengan kelemahannya sampai-sampai Timor Timur memisahkan dari Indonesia, dsb.
bukan maksud apa-apa, tapi segala pandangan yang menempatkan posisi perempuan dalam posisi subordinat dari laki-laki jelas bukan bagian dari pemahaman islam yang tepat, dan cenderung menyandarkan pemahaman agamanya pada tafsir-tafsir sempit dan tidak peka dengan fakta-fakta sejarah, sosiologis, dan psikologis . Ya, dalam fatwa-fatwa ulama klasik perempuan memang tidak ditempatkan di ranah publik dan dilarang menjadi pemimpin dengan alasan tertentu. tanpa melupakan penghargaan terhadap mereka, alas an-alasan tersebut cenderung lahir dalam konstruksi budaya patriarki serta sentimentil terhadap perempuan.
Emosi, maupun biologis jelas bukan faktor determinan dalam menentukan kualitas suatu kepemimpinan. Al Qur'an justru menceritakan kisah kemakmuran negeri Saba' karena dipimpin oleh perempuan, juga dalam tarikh sejarah kita tidak bisa juga melupakan kepemimpinan Aisyah R.A. dalam perang jamal. an Nisa ayat 34 dan hadis yang menyatakan bahwa tidak beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh perempuan, bukan dalil yang mengharamkan seorang perempuan menjadi pemimpin.
Kaidah fiqih لاَيُنْكَرُ تَغَيُّرُ الاَحْكَامِ بِتَغَيُّرِالاَزْمَانِ وَالاَمْكِنَةِ (tidak bisa dipungkiri, perubahan hukum bisa terjadi karena perubahan waktu dan tempat) harus menjadi  pegangan. at Taubah ayat 71 jelas menempatkan tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan di hadapan Allah. Yusuf Qardhawi (Ketua Persatuan Ulama Internasional) menyatakan bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin dalam semua hal termasuk memegang kendali kekuasaan menurut spesialisasi masing-masing, seperti jabatan memberi fatwa dan berijtihad, pendidikan, kehakiman dan sebagainya. Sedangkan menurut Hamka (ulama kharismatis Muhammadiyah) dalam tafsir al Azhar menyebutkan antara laki-laki dan perempuan tidak dibedakan dalam hal berbuat kebajikan. Keduanya bersatu dalam satu keyakinan, yaitu percaya kepada Allah SWT.
Dapat dipahami bahwa perempuan mempunyai kesempatan yang sama dalam menegakkan Agama dan membangun masyarakat beriman. Deklarasi OKI (Organisasi Kerjasama Islam) pada deklarasi Kairo tahun 1991 tegas menyatakan bahwa baik perempuan maupun laki-laki mempunyai kedudukan sama dalam ruang publik, pembedaannya hanya ada pada fungsi keibuan. Putusan majelis tarjih Muhammadiyah ke 17 di Padang tahun 2002 pun, juga memutuskan hal serupa. Perempuan berhak berkiprah dalam ranah politik termasuk menjadi presiden. kita harus menghargai semua pendapat, tapi akan lebih baik jika pendapat tersebut dikuatkan dengan argumen-argumen teologis, filosifis, teoritis, pengalaman, maupun kepekaan akan sejarah dan fakta psikologis. Jika tidak, terlebih menyangkut persoalan agama terlebih yang sensitif seperti isu perempuan, maka akan sangat kontraproduktif pada Islam itu sendiri. Penafsiran tekstual tidak salah, bahkan sangat baik untuk menjaga kemurnian Islam. Tetapi jika dipahami tekstual secara sempit, bukan malah tidak mungkin mendegradasi peran Islam sebagai rahmatan lil 'alamin. Sejarah nabi adalah revolusi melawan sistem sosial yang timpang, pemposisian perempuan dalam posisi subordinat hanya akan melanggengkan sejarah ketimpangan tersebut. HIDUP PEREMPUAN!!!
Diterbitkan Pada Sabtu, 02 Juli 2012

0 komentar:

 

Copyright © Goresan Pena Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger