Selasa, 10 April 2012

Negaraku, Negara Tertindas


Oleh. Rijal Alam Muhammadi (IMM Komisariat FISIPOL 2010)
Keheforiaan Indonesia pasca kemerdekaan masih terasa sampai saat ini. Hal ini banyak dibuktikan dengan berbagai gejala yang timbul olehnya. Mulai tahun 1946, tahun 1950, tahun 1998 sampai dengan tahun 2012 ini. Kita tak terlepas dari yang namanya sejarah, sejarah dunia adalah sejarah pemerasan, apakah tanpa pemerasan sejarah tak ada? apakah tanpa kesedihan dan penghianatan sejarah tak akan lahir. seolah-olah jika kita membagi sejarah yang dijumpai hanyalah penghianatan diatas ruang dan waktu kita hidup diatasnya[1].
Indonesia yang terlahir dari gagasan seorang pemikir muda pada zamannya yaitu Tan Malaka Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897[2]. Walaupun banyak yang menafsirkan, istilah Indonesia digunakan oleh orang Inggris bemama Maxwell pada tahun 1862 dalam karangannya berjudul The Island of Indonesia (Kepulauan Indonesia) dalam hubungannya dengan ilmu bumi. Istilah Indonesia semakin populer ketika seorang ahli etnologi Jerman bernama Adolf Bastian menggunakan istilah Indonesia pada tahun 1884 dalam hubungannya dengan etnologi[3]. Tapi sudahlah, kita tidak akan membicarakan sejarah nama Indonesia dalam dewasa ini. Kita akan berbicara dalam perjuangan yang sia-sia dalam menanggapi kemerdekaan tahun 45 lalu.
Tentu kita masih ingat bersama saat menduduki sekolah menengah pertama tentang sejarah kemerdekaan Negara Indonesia. Tetapi pernahkah kita berfikir semuanya itu hanyalah penghianatan sejarah? Mari bersama kita kupas itu secara mendasar.
Lebih dari 2 negara asing yang pernah menguasai bangsa Indonesia. Belanda, Inggris dan Jepang. Negara-negara tak bertanggungjawab itulah yang merampas moral bangsa ini. Tetapi kadang kala kita patut bersyukur dengan mereka, mengapa? Karena dengan hadirnya mereka tanpa kita sadari Negara Indonesia nampak dan mampu diakui Negara-negara lain. Walaupun perjalanannya sangat panjang.
Indonesia berdiri pada tahun 1945 berada ditengah pergolakan perang dunia II. Perjuangan yang dilakukan tak ayal membuat Indonesia bimbang dan memutuskan tidak akan memihak blok manapun. Kemudian Indonesia berinisiatif  bersama-sama Negara dunia III mendirikan organisasi non blok. Organisasi yang tak mendukung keranah manapun. Kekuatan Indonesia menarik perhatian Negara-negara besar yang berkuasa pada saat itu antara Uni Sovyet dan Amerika Serikat (AS). Hal ini ditunjukan dengan datangnya bantuan senjata sebanyak 160 ribu pucuk senjata api laras panjang saat perlawanan terhadap Jepang oleh Uni Sovyet. Indonesia yang saat itu membutuhkan, menerima dengan senang hati bantuan tersebut tanpa maksud apapun.
Indonesia pada awal tahun 1950 sampai akhir 1960 adalah Negara yang terjebak diantara perang dingin. Apakah Indonesia dibawah pimpinan Presiden seumur hidup Soekarno mampu melewati itu semua dan tetap konsisten dengan misi non bloknya? Tetapi keekomunisan yang digambarkan oleh Soekarno tidak dapat ditutupi dengan mudah. Kedekatan Soekarno dengan pentolan PKI saat itu terasa dekat dan mampu dinikmati banyak orang. Kejelian seorang dictator tua tidak mampu ada yang mengalahkan, sehingga keresahan ditahun itu banyak yang merasa tak lepas dari steck holder Negara sekalipun. Ini dibuktikan dengan terbentuknya aliansi dewan jenderal (Ahmad Yani, Raden Suprapto, Mas Tirtodarmo Haryono, Siswondo Parman, Donald Isaac Panjaitan dan Sutoyo Siswomiharjo) untuk membendung sebuah kekuatan penangkis Soekarno. Tapi semua itu sia-sia, siasat yang dilakukan Soekarno lebih canggih. Soekarno menggunakan PKI dengan berpakaian cakrabiwara untuk meluluh lantahkan impian dewan jenderal dengan tragedia yang kita kenal dengan G30 S.
Pelu kita ketahui bersama bahwa tragedy pembantaian dewan jenderal itu dijadikan alat untuk CIA yang di gawangi oleh AS untuk masuk dalam pengotak atikan system Negara Indonesia. Cakrabiwara yang diperintah Soekarno dalam misi pembantaian ternyata tidak lepas dari pengaruh CIA dengan agen khususnya yaitu Soeharto. Ada keambiguan misi yang dapat kita lihat disini, perintah yang dilakukan Soekarno bukan untuk membantai dewan jenderal akan tetapi hanya mengamankan saja. Karena pengamanan ini bentuk ultimatum dari Soekarno untuk mereka. Kemudian misi itu dibelokan oleh CIA dan Soeharto. Ini ditunjukan dengan kedekatan Letkol. Untung terhadap Soeharto pada saat itu yang memimpin pembantaian.
Tahun 1950an inilah gerbang awal penjajahan model baru dimulai, pembukaan gerbang untuk AS terbuka lebar, yang kemudian dapat kita bagi Indonesia menjadi dua (musim), musim jaya bertempur (atau musim jaya berjuang) dan musim runtuh berdiplomasi. Dalam hal ini pembaca hendak menafsirkan yang mana keberadaan Indonesia saat ini.
Lengsernya Soekarno merupakan sebuah pertanyaan yang sampai saat ini belum ada titik temu yang jelas. Banyak yang menafsirkan perpindahan jabatan itu dikarenakan pengkudetaan yang dilakukan Soeharto terhadap Soekarno melalui tragedy supersemar. Ini menjadi pukulan yang keras bagi Soekarno, karena mengingat Soekarno dalam ketetapannya menyatakan dirinya sebagai Presiden seumur hidup. Tetapi sudahlah, ini hanya sebatas intermezzo yang dilakukan penulis dalam karyanya ini. Yang perlu diperhatikan pembaca adalah setelah lengsernya Soekarno dari kepresidenan maka ini merupakan makanan empuk bagi AS untuk menguasai pemerintahan Indonesia.
Soeharto merupakan tokoh yang berpengaruh dalam sejarah kehidupan Indonesia mulai dari kemerdekaan sampai saat ini. Soeharto menjabat sebagai presiden lebih dari 30 tahun. Memang tak mudah lepas dari peribahasa “semakin berkuasa semakin menjadi”. Awal pemerintahan yang dilakukan Soeharto begitu baik dan toleran terhadap rakyat Indonesia untuk semua kalangan. Kemudian kebaikan itu hanya bersifat sementara dan sama seperti Soekarno sebelumnya, Soeharto bersifat  otoroter dengan menggunakan kekuatan militer untuk memimpin Negara Indonesia ini. Sehingga pada zamannya muncul berbagai macam istilah yang membolehkan militer untuk berpolitik. Hal ini sangat bertentangan dengan hukum yang tidak memperbolehkan militer dalam ranah politik.
Singkat cerita untuk Soekarno, karena terlalu lama penulis menguraikan tragedy apa saja yang ada pada jaman itu. Hanya yang penulis ingat meraknya penculikan rakyat meliputi terpelajar dan biasa yang hendak mengkritik pemerintahan Soeharto. Tetapi dipenghujung kediktatorannya dalam memimpin Soeharto dapat dilenserkan dengan pengkudetaan yang dilakukan oleh masa aksi yang tergolong dari kaum terpelajar dan rakyat biasa pada tahun 1998 tepatnya 11 mei. Pengkudetaan Soeharto ini didalangi oleh seorang pemuda sebut saja Amien Rais laki-laki kelahiran Solo, Jawa Tengah, 26 April 1944. Dengan pengangkatan isu dalam bentuk reformasi pemerintahan Indonesia. Tragedy 11 mei 1998 banyak yang bilang sebagai tragedy pembebasan terhadap suatu rezim pengekangan dan ditandai dengan banyaknya korban yang berjatuhan dari kalangan pelajar, sebut saja 3 mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta.
Bermacam-macam tragedy kita lalu dibumi pertiwi ini, tetapi kita sampai saat ini belum dapat mengambil pelajarannya. Bahkan berbagai bentuk tiran dan rezimpun kita lalu, tetapi kita juga belum mampu pula untuk mengambil pelajaran. Sampai kapan kita banyak mempelajari sejarah Negara ini, jika kita hanya bisa dibodohi oleh sejarah sendiri. Terkadang benar jika sejarah itu hanya sebuah penghanatan semata. Penghianatan yang kepadanya kita selalu dibodohi dan tanpa merasa. Atau mungkin proklamasi 17 agustus itu kita hanya melakukan kemerdekaan 100% yang sekarang telah merosot kebawah 10% itu?
Seperti udara bagi paru-paru untuk bernapas, demikianlah tekad ingin menang itu adalah syarat bagi seorang prajurit untuk berperang. Ataukah kita pantas menggunakan slogan militer “satu hilang, kedua terbilang; namanya anak laki-laki”.[4] Sadarkah kita terlelap dalam pangkuan ibu pertiwi, yang membawa si Yanto klimaks dalam mimpi basahnya. Sampai kapan kita terus begini? Berapa putra putri bangsa ini yang terbuang dan diakui bangsa lain seperti Putra Seorang BJ Habiebie?
Terlalu banyak kawan pembaca, keburukan yang ada di Indonesia ini. Penulis mengajak dalam hal ini marilah kita bersama-sama mengaca Negara kita untuk kemudian memperbaikinya. Walaupun jalan yang ditempuh sesulit Tan Malaka, sesulit Soe Hok Gie, dan sesulit tokoh-tokoh pembaharu lainnya. Penulis teringat ketika Tan Malaka merisaukan makin menciutnya wilayah Republik Indonesia dengan berdirinya berbagai Negara boneka bentukan Belanda. Kaum kapitalis, kolonialis dan imperialis berhasil mengacaukan perekonomian dan keuangan Republik Indonesia. Karenanya, Tan Malaka tidak mengenal kompromi dengan kekuatan kolonialisme dan imperialism. Ia tidak menyetujui perundingan dengan lawan. Ia menganggap berunding adalah sikap mengorbankan kedaulatan dan kemerdekaan rakyat[5]. Terlepas itu Murba ataupun yang lainnya.
Ataukah kebesaran idealisme seorang Soe Hok Gie dalam melihat fenomena saat itu, dengan memposisikan dirinya sebagai seorang terpelajar dengan jabatannya seorang dosen. Kritik-kritik tajam yang dilontarkan dalam setiap penulisan dan puisinya tidak membuatnya gentar oleh tiran yang ada.
Sebentar kita lihat dari sisi agama atau kepercayaan  rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam atau agama-agama lainnya seperti Konhucu, Kristen, Hindu, Budha, dll. Berpengaruhkah dengan kemajuan Indonesia dalam dewasa ini? Bukankah semua agama mengajarkan umatnya kepada kebaikan? Bagaimana implementasinya terhadap Indonesia?
Mari jawab satu persatu pertanyaan diatas, karena jika tidak kita jawab akan menjadi PR besar yang tak terpecahkan. Pembahasan yang dilakukan penulis akan mendahulukan dari sisi agama Islam. Dewasa ini, Indonesia telah memiliki banyak organisasi kemasyarakatan (ormas), baik yang kecil maupun yang besar. Sebut saja seperti NU, Muhammadiyah, Persis, FPI dll. Berdasarkan survey yang dilakukan penulis lewat via internet menyatakan seluruh organisasi kemasyarakatan Islam yang ada di Indonesia merujuk kepada kebaikan dalam menghadapi kehidupan. Bahkan dari 2 ormas yang ada seperti Muhammadiyah dan NU ikut dalam mempertahankan kedaulatan republic Indonesia pada tahun 1945an, merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat Indonesia saat itu. Salah satu bentuk konkrit dalam hal ini ialah  peran salah satu pimpinan Muhammadiyah dalam decade 1942-1953 seperti Ki Bagus Hadikusumo yang menggagas sila Ketuhanan yang Maha Esa guna mengganti 7 kata dari Piagam Jakarta yang ditolak oleh kalangan non-muslim. Atau mungkin jika kita sebut kader terpilih NU kiprahnya dalam keIndonesiaan ini, seperti Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang pernah menjabat sebagai Presiaden Republik Indonesia. Sebut saja dalam otak kita siapa saja tokoh ormas yang berpengaruh dalam keIndonesiaan sejak awal kemerdekaan sampai sekarang.
Sepertinya yang kita bicarakan nonshen atau omong kososng jika kita menganggap ormas Islam dapat ikut andil untuk mempertahankan kedaulatan republic Indonesia. Atau mungkin kekonsistenan ormas tertentu yang tidak mau mengikut sertakan diri dalam dunia perpolitikan. Kemudian muncul pertanyaan jika, apakah semua perbaikan Indonesia itu hanya bisa dilakukan pada aspek politik saja? Bukankah semua itu kembali kepada personality nya.
Dari berbagai uraian yang ditulis diatas, walaupun kepesimisan yang kita hadapi. Tetapi penulis dalam hal ini yakin bahwa kita semua kaum muda bisa mengarahkan Indonesia menjadi yang lebih baik. Mewujudkan kemerdekaan rakyat Indonesia baru tercapai bila kemerdekaan politik 100% berada di tangan rakyat Indonesia[6]. Kaum muda yang nantinya akan selalu dibanggakan bangsa ini dalam semua kiprahnya untuk Indonesia yang berkemajuan. kita generasi baru di tugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Kita akan menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor koruptor tua, kitalah generasi yang memakmurkan Indonesia[7].
Pembukaan jendela cakra wakala yang kita butuhkan sekarang. Mencari wawasan diluar kelas perkuliahan dengan pintar untuk membaca, buku maupun kondisi. Baca buku itu untuk dipahami kemudian di kritisi dan diskusikan bersama. Memang sekarang ini kita selaku penikmat hany bisa di pelajari tapi tidak bisa dilakukan pertanggungjawabannya tentang keafsahannya. Mungkin Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan, apakah tanpa pemerasan sejarah tak ada? apakah tanpa kesedihan dan penghianatan sejarah tak akan lahir. seolah-olah jika kita membagi sejarah yang dijumpai hanyalah penghianatan diatas ruang dan waktu kita hidup diatasnya[8].
Terima kasih telah membaca artikel saya… Rijal Alam Mohammadi



[1] Catatan seorang Demonstran, Soe Hok Gie.
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Tan_Malaka
[3] http://syadiashare.com/asal-mula-nama-indonesia.html
[4] GERPOLEK. Tan Malak
[5] Ibid.
[6] GERPOLEK, Tan Malaka.
[7] Seo Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran
[8] Film Soe Hok Gie

1 komentar:

Bakhrul-Ilmi mengatakan...

Bagus cak Ijang

 

Copyright © Goresan Pena Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger