Senin, 19 Maret 2012

Untukmu Bung SBY

0 komentar

Bismillahirahmanirahiim
Kadang saya berfikir ketika membaca buku tulisan Pak Amin Rais tentang Gerakan Politik Muhammadiyah, disana tertera bahwa Indonesia mempunyai pendapatan perkapita berkisar USD 1.000, itu semua kalah dengan Negara tetangga Malaysia yang sering kita olok-olok mempunyai pendapatan perkapita USD 3.115 begitupun dengan Thailand USD 1.905. Miris sekali melihatnya bung, padahal melihat Sumber Daya Alam dari tiga Negara itu Indonesialah yang terkaya untuk masalah Sumber Daya Alam tapi ironisnya bisa kita lihat bersama. Rendah bung.
Surat ini dikhususkan untuk Presiden saya yang tercinta bung SBY.
Bung SBY,
Apa kita masih terlena dengan jajahan yang dilakukan Belanda selama 350 tahun, memang Belanda telah mengeruk dua dimensi unsure yang berharga dalam jati diri bangsa ini yang mana itu menjadi hantu yang menghantui bagi kita. Pertama, Sumber Daya Alam yang dikeruk habis dengan andil persatuan dagang VOC. Saya rela rempah-rempah bangsa ini dikeruk habis oleh mereka bung, karena saya tahu mereka bangsa yang miskin akan hal kekayaan itu. Anggaplah itu sebagai sadaqah bagi mereka. Kedua, mentalitas bangsa ini yang dikeruk pula sehingga menjatuhkan rasa percaya diri untuk maju. Tidak salah dan heran bung, ketika masyarakat bangsa ini lebih bangga dengan pakaian yang serba symbol(seragam, jabatan, dll) bertengger dibahunya. Kemudian apa kita salah bung ketika bangsa ini bermimpi ingin maju tapi tetap terhantui dengan baying-banyang kegelisan yang dialami nenek moyang kita? Semua itu kita serahkan kepadamu bung sebagai imam bangsa ini.
Bung SBY,
Bung kemudian saya berfikir tentang imam bangsa ini dari fase ke fase. Tapi sebenarnya saya tidak mau mengatakannya melalui tulisan ini, memang hati kecil tidak bisa di bohongi bung. Presiden pertama yang haus akan wanita, presiden kedua yang takut akan wanita, presiden ketiga yang setia akan wanita, presiden keempat yang tidak dapat hidup tanpa wanita, presiden kelima yang seorang wanita, kemudian presiden keenam yang berhati wanita. Lihat bung, surat ini hanya sebongkah catatan tiada arti yang mengharap iba darimu bung. Bung dulunya kami berharap ketika bangsa ini dipimpin olehmu bung akan lebih baik lagi, terlepas dari yang namanya penculikan diam-diam rakyat Indonesia yang membangkang. Terlepas pula dari pemisahan pulau-pulau yang strategis untuk memerdekakan diri, terlepas dari liquiditas Negara, terlepas dari krismon, dan terlepas dari tali kutang ibumu (konotasi).
Bung SBY,
Bung bangga rasanya saya seorang muslim yang hidup dinegara mayoritas penduduknya muslim (walau memang semua itu identitas KTP). Dua elemen dakwah umat muslim yang tertera dalam Surat Ali Imran: 104 sudah ada di negeri ini. Amar ma’ruf (Muhammadiyah dan Nahdhatul ‘ulama) dan Nahyi Mungkar (MMI dan FPI). Tetapi ironis hati ini melihat pembantaian besar-besaran yang dialami saudara- saudara muslim saya di Poso dan Ambon. Bung memang pada saat itu namamu belum sempat bertengger di pimpinan besar bangsa ini, tapi apakah kita hanya berdiam diri dengan sejarah kelam dari berbagai decade. Sebenarnya bosan saya bbung menulis surat seperti ini untukmu bung yang nantinya hanya di jadikan alas gorengan diwarung-warung dekat rumahmu yang di Cikeas. Kemudian saya sadar sebagai mahasiswa yang kerjanya tidak hanya demo dan kisruh di pinggir jalan tetapi menulis surat kegundahan hati rakyat seperti ini.
Bung SBY,
April esok kita melihat realita kenaikan BBM di negeri ini, alasan apapun itu bung untuk mengatasi inflasi lah, untuk menghindaari liquiditas lah. Sebenarnya saya dan rekan-rekan mahasiswa tidak peduli dengan hal itu. Toh saya hidup di pulau jawa yang sebagai pusat industry dan infrastruktur negeri ini. Saya hanya takut image anda bung di depan rakyat ini semakin jatuh dan menjongkok. Iya memang semua itu berkat bawahanmu yang korup bung, kita klihat si jendral pajak Gayus Tambunan di susul dengan Danha Widyatmika. Semua itu hanya penggrogot matamu yang telah lapuk dimakan usia, pengisi perutmu yang semakin buncit oleh uang-uang rakyat yang mereka makan.
Bung apa kamu tidak letih matamu melihat rakyat mengantri BBM dan sembako dari sabang sampai meraoke? Tidak lelah telingamu mendengar hujatan rakyat kepadamu? Tidak kah sukar otakmu memikirkan nasib rakyat yang menggeludak pengangguran di bbbbumi pertiwi ini?
Pertanyaan-pertanyaan sepele yang selalu mengusik pikiran saya ketika saya hendak tidur dimalam hari dengan menyerahkan hidup kepada sang Rabbi.
Bung SBY,
Sebenarnya hati ini tak kuasa untuk menangis melihat antrian sembako, BBM dan BLT di pedesaan dinegeri ini. Tetapi saya hanya seorang mahasiswa perantau di negeri Gudeg, yang berusaha mempelajari cita rasa bibir yang selalu menghujat kepadamu. Teringat sudah nyanyian Bang Iwan fals tentang anaknya GALANG RAMBU ANARKI. “BBM naik tinggi, susu tak terbeli, orang pintar tarik subsidi, bayi kami kurang gizi”. Saya hanya berharap orang pintar ini bukan kamu bung. Orang pintar yang bisa menduplikat kwitansi keuangan Negara, orang pintar yang bernegosiasi dengan investor asing dalam PTnya di negeri ini. Kemudian dengan penutup surat ini saya hanya berharap dengarkan suara kami “Wahai presiden kami yang baru tolong kamu dengar suara ini” – Iwan Fals song 

Read more ►

Goes to Wonosobo

0 komentar

       Hari itu tanggal 07 Februari 2011 aku beserta segenap teman 84 berangkat untuk berkunjung dan berta'ziah ke rumah teman seperjuangan kita selama 6 tahun di kota Wonosobo. Sebelum berangkat kita pripare dulu di rumah saudara Oby yang terletak di sekitar Taman Tirto Nirmolo Bantul, aku berangkat dari rumah jam 09. 38. Jam itu aku kira sudah terlambat untuk berangkat bersama ke Wonosobo, ternyata tidak. Aku malah menjadi salah satu yang pertama datang ke rumah Oby.
       Jam 11 siang kita berangkat dari kediaman saudara Oby, dengan pakaian dan perlengkapan seadanya kami niatkan karena Allah SWT. Waktu itu aku berangkat dengan seorang teman aku yang bernama Wafi dan akrab dipanggil Arnodl, sebelumnya aku berniat untuk berangkat sendirian karena aku mempertimbangkan body aku yang besar dan motor yang aku gunakan kecil. Tapi karena posisi dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk berangkat sendiri akhirnya aku berboncengan dengan Wafi.
       Berangkat dari kediaman saudara Oby kami melewati jalur selatan yang mana kita menyusuri kota - kota sekitarnya seperti Kulonprogo dan Purworejo. Ada hal yang begitu menarik saat perjalanan yaitu kita saling balap membalapi akan tetapi kita saling tunggu menunggui sehingga kita terasa lelah saat di perjalanan dan bahkan kita disaat menunggu teman yang tertinggal karena kondisi motor yang kurang baik kita menyempatkan untuk istirahat dan berokok ria. Memang perjalan itu sungguh mengasikkan karena kita tidak merasa lelah sedikitpun.
       Saat memasuki kota Wonosobo, perjalanan pun begitu menantang karena faktor jalan yang begitu extrime, jalan yang berlik membuat andrenaline kita terpacu ditambah dengan mobil - mobil besar yang menghalangi kita saat diperjalanan, memang mobil yang ada tidak sebesar mobil - mobil disaat perjalanan aku pulang ke Serang, akan tetapi mobil - mobil tersebut membawa banyak longgahan kayu besar, sehingga membuat kami berfikir 2 kali untuk menyelipnya.
Jam 14.00 kita sampai dikediaman rumah Samsul, disana kami disambut dengan hangat oleh keluarganya tercinta. saat pertama tiba kami bersalaman dengan kreabat samsul yang ada disana, dan lanjutkan dengan acara silaturrahmi yang dipimpin oleh saudara Hafiz, yang disusul sambutan dari pihak angkatan 84 yang dibawakan oleh sadara Majid dan pihak keluarga Samsul yang dibawakan oleh bapak saudara Samsul dan saudara Samsul sendiri. Dilanjutkan dengan ta'ziah ke makam ibu dari saudara Samsul, medan yang dilalui kita sungguh extrime juga karena jalan yang licin dan naik, tapi halangan ini tidak mengecilkan tekad kita yang ingin maju terus pantang mundur (lebay ah...).
       Selanjutnya pada jam 14.47 kita berpamitan dengan keluarga Samsul dan kita pun pulang dengan melalui jalur utara dari kota Magelang. Di jalan terdapat yang fenomena yang sangat lucu, karena jalan kita lalui begitu extrime dibanding jalur selatan yang pertama kita lalui. Tanjakan yang tajam membuat motor - motor kita harus kerja extra untuk melaluinya dan ada motor teman aku yang tidak tahu kenapa dia tidak dapat menaiki jalan tersebut dan mungkin karena faktor motor yang sudah tua atau faktor yang orang mengendarainya. Melewati kota Magelang kita dilihati bebatuan besar yang menghambat sungai disepinggir jalan, begitu pun dengan pasirnya. Ya, memang itu faktor akibat dari lahar dingin gunung Merapi. Fenomena seperti ini sengguh menyentuh hatiku karena rumah - rumah menjadi hancur akibanya.
       Jam 16.58 pun kita sampai dikediaman saudara Oby dan aku dilanjutkan menuju ke kantor PD IPM Kota Yogyakarta untuk rapat fasilitator PK TM 2 yang tidak lama lagi diaadakan. Oke terima kasih itu dia sekelumit tentang pengalaman yang begitu mengasikan bersama teman - teman.

Read more ►

Jumat, 16 Maret 2012

Surat Untuk Calon Istriku

1 komentar



Bismilahirrahmanirrahim..

Hai puanku, bila saatnya tiba kau baca surat cintaku ini, aku hanya berharap di hari saat dimana kau kecup punggung tanganku untuk yang pertama kali di hadapan penghulu, para saksi, orang tua kita, saudaramu, saudaraku, sahabatmu, sahabatku, adalah simbol cintamu yang akan selalu ada disisiku sampai Izrail menghampiri kita.

Perempuanku, jangan kaget bila aku menuliskan surat cinta ini jauh dari hari saat kau membacanya. Saat aku belum melihat paras cantikmu, saat aku belum mengenal akhlak muliamu, saat aku belum tahu namamu. Jangan khawatir sayang, dulu kita sudah bertemu. Saat di alam ruh. Allah telah memilihkan kamu untuk menjadi istriku, saat empat bulan masa kandunganku di dalam perut ibu. Sejak saat itu namamu sudah disandingkan di sebelah namaku. Sejak saat itu aku sudah mencintaimu.

Cantik, selain mahar yang kau minta saat pernikahan kita. Aku ingin berikan kau satu lagi: sebuah mukjizat Nabi terakhir. Alquranul Karim, yang akan selalu kau baca dengan suara merdumu, sebagai pelepas lelahku sepulang aku bekerja. Alquranul Karim, yang akan kau ajarkan betapa indah lantunan ayat - ayat suci kepada anak - anak kita nanti. Alquranul Karim, yang akan kau baca tepat disampingku nanti, saat aku terkulai lemah tak lagi berarti walau hanya untuk menjentikan jari. Alquranul Karim, yang akan selalu kau bawa dan kau baca tepat di samping nisanku nanti apabila Izrail menjemputku lebih dulu. Tetap bacakan untukku walau seayat sayang, aku pasti akan merindukan suara bidadariku bernyanyi: Kau mengaji.

Sayang, mungkin aku tak lebih hebat dari ayahmu dalam menjagamu. Aku tak segagah ia melindungi dirimu, mempertahankanmu dari para pria yang menginginkanmu darinya, termasuk aku yang akhirnya ia percayakan sebagai penggantinya untuk menjagamu. Tapi puanku, percayalah. Kaulah alasanku untuk belajar menjadi pria yang kuat. Pria yang rela walau harus sampai mati melindungimu, demi menjaga hatimu, kehormatanmu juga ragamu. Dinginnya malam sekali pun tak akan aku biarkan mengigit kulit indahmu sayang.

Cinta, izinkanlah aku nanti, sebelum kuucapkan ijab qabul pernikahan kita yang disahkan para saksi, kulantunkan selarik ayat suci: An Nisa. 34, sebagai janjiku yang akan selalu melindungimu atas nama laki - laki. Sebagaimana Allah telah mewahyukan ayat itu kepada Muhammad nabi kita.

Hei wanitaku, saat kau sudah menggenapkan agamaku nanti, sesudah kau amini Al-Fatihahku yang pertama kali, setelah pertama kalinya kau cium tanganku selepas sholat, aku ingin saat itu kau selalu jadi pengingatku. Aku hanya manusia yang terkadang lupa, sering melakukan salah, dan laki – laki yang tak peka seperti wanita. Sekali kau memohon: ‘Maukah kau lakukan itu untukku?’ Demi apa pun, apalah arti dunia jika aku melihat air matamu. Kan kulakukan sepenuh hati hanya untukmu hei Batariku.

Hei bidadariku, aku berjanji, tanpa sedikit pun aku menentang hal yang pernah dilakukan Rasulullah. Saat kau menjadi istriku nanti, akan kujadikan kau satu – satunya di dunia dan akhirat. Seperti halnya Sayidina Ali Radliallahuanhu menjadikan Fatimah Az Zahra satu – satunya bidadari bumi yang dimilikinya.

Kasih, tenanglah. Saat aku telah menjadi imammu nanti, tak akan pernah berhenti aku mencari rezeki. Selama masih keluar keringat kuperas dari tubuhku, selama masih kuat kubanting tulang punggungku, aku akan terus menafkahimu. Tak akan kubiarkan kau dan anak – anak kita kelaparan dan kehausan. Kupastikan kalian tak akan pernah kekurangan cintaku, sayang.

Jelita, kalau boleh aku meminta. Aku menginginkan putri yang menjadi buah hati kita yang pertama. Kita didik ia menjadi anak yang shalehah, dan kan kutanam sekeping jiwamu pada dirinya. Agar apabila nanti kau dipanggil lebih dulu oleh Pemilikmu yang sebenar – benarnya, aku masih bisa melihat kamu dalam diri putri kita. Dan aku ingin putra kita hanya terpaut satu tahun dengan kakaknya. Agar ia bisa tumbuh dewasa bersama saudari kandungnya. Dan akan kutempa dia agar menjadi pria yang kuat, bahkan melebihi aku. Agar apabila nanti aku yang kembali lebih dulu ke sisiNya, ia bisa menjaga ibu dan kakaknya seperti yang telah kulakukan dan kuajarkan kepadanya.

Manis, saat aku resmi menjadi suamimu nanti. Tak kan kulewatkan pagi tanpa mengecup keningmu yang harum. Kan kulakukan tiap aku hendak bekerja, atau tiap kali aku pergi meninggalkanmu. Dan akan selalu kulisankan tiga kata setelah bibirku ini meletakkan cinta di wajahmu: I love you. Dan tak akan kulewatkan pula detik berharga sebelum kau memejamkan mata, kembali kan kuletakkan cinta di kening atau pipimu. Aku tak akan bosan menciummu setiap hari, sayang. Seperti halnya nabimu juga nabiku yang tak pernah bosan melakukan hal romantis ini kepada istrinya setiap hari.

Bidadariku, aku tahu perjalanan bahtera kita tak akan selalu berlangit cerah. Syaitan pun tak kan pernah berhenti merusak hidup manusia sampai kiamat tiba. Maka ingatkanlah aku dengan kelembutan hatimu, agar tak ada hal lain yang kulakukan untukmu selain mencintaimu dan melindungimu. Sungguh aku tahu wanita itu tercipta dari tulang rusuk pria yang paling bengkok. Maka tak akan kupaksa ‘tuk luruskan engkau hingga patah, dan tak akan pula kubiarkan engkau tetap bengkok. Islam yang akan selalu menuntunku bagaimana seharusnya aku memperlakukanmu.

Sayang percayalah, aku akan selalu mencintaimu di tiap waktuku. Aku akan tetap menciummu, meski pipimu tak lagi sekencang dulu, meski keriput tlah menggarisi keningmu. Aku akan tetap membelai rambutmu, meski putih telah memakan habis hitamnya yang indah. Aku akan tetap memelukmu, meski bungkuk badanmu dan ringkih tubuhmu, aku akan tetap memelukmu.

Berjanjilah cinta, apabila tiba saatnya Izrail memamerkan surga dan neraka di kedua sayapnya di hadapanku. Jangan pernah berhenti bisikkan nama Allah di telingaku, jangan pernah kau lepas genggaman tanganku dan jangan dulu jatuhkan air matamu sebelum malaikat benar – benar mencabut ruh dari ragaku. Sudah kubilang: Apalah arti dunia jika aku melihat air matamu.
Tenanglah kasih, batu nisan memang akan pisahkan dunia kita nanti, tapi dia tak akan mampu pisahkan cinta kita. Aku mencintaimu tak hanya di dunia.

Semoga Allah mengabulkan doa di tiap sujudku, agar pernikahan kita tak hanya dilanggengkan di dunia, tapi juga diabadikan di taman surgaNya. Amin…
Aku mencintaimu karena Allah, bidadari surgaku

Calon Imam hidupmu

Read more ►

Jumat, 24 Februari 2012

Pemikiran Politik Aristoteles

0 komentar

Penulisan paper ini ditunjukan untuk prasyarat mengikuti training politik (TRAPOL) yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang AR Fakhruddin. Pengangkatan tema diatas penulis menginginkan pembaca memahami tentang pemahaman pemikiran politik menurut Aristoteles. Kita ketahui bersama bahwa pemikir politik zaman klasik tidak terpisahkan dari nama – nama seperti Plato, Socrates dan Aristoteles. Para pemikir ini mempertahankan ilmu yang dikembangkan oleh banyak scientific politik, sehingga bertahan sampai saat ini.
Tentu, kita sebagai masyarakat sering melihat cara berpolitik para pejabat, sehingga kita sering mendefinisikan politik tersebut sesuai apa yang kita lihat. Untuk etika politik di Indonesia bisa dikatakan minim etika politik, sehingga banyak masyarakat yang memiliki pandangan bahwa politik itu kotor, politik itu permainan ParPol ( Partai Politik ) yang saat ini begitu berkepentingan dengan keinginan berkuasa untuk kepentingan kelompoknya, bukan keiginan berkuasa untuk kebaikan kepentingan umum.
Realita yang dimunculkan oleh berbagai media membuat cara berfikir masyarakat tentang politk menjadi lain, sehingga masyarakat melihat politik lebih dekat kepada penyuapan, korupsi, koalisi, Nepotisme, kolusi dan lain-lain. Makna awal politik yang dijabarkan oleh pemikir politik klasik dalam berbagai kajian yang dilakukan dikelas-kelas perkuliahan sangat kontras sekali. Kemudian hakekat awal politik merupakan cara mengajak dengan mempengaruhi seseorang atau suatu kelompok untuk mengikuti tujuan yang kita mau.

Dalam hidup bernegara khususnya Indonesia, manusia mempunyai berbagai pandangan tentang politik. Politik yang dikhususkan adalah memahami peran politik dalam bernegara sehingga masyarakat mengetahui secara gamblang dengan politik itu sendiri. Kemudian muncul beberapa pertanyaan dalam mengimlementasikan politik dalam suatu Negara, diantaranya:
Apakah politik itu?
Apakah Negara itu?
Pantaskah politik Negara yang didefinisikan Aristoteles dengan politik Negara saat ini?
Pemikiran mengenai politik  didunia barat banyak dipengaruhi oleh filsuf Yunani Kuno abad ke-5 SM. Filsuf seperti Plato dan Aristoteles menganggap poltik sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik yang baik. Dewasa ini definisi mengenai politik yang sangat normative itu telah mendesak oleh definisi – definisi lain yang lebih menekankan pada upaya (means) untuk mencapai masyarakat yang baik seperti kekuasaan, pembuatan keputusan, kebijakan, alokasi nilai dan sebagainya.

Namun demikian, pengertian politik sebagai usaha untuk mencapai suatu masyarakat yang lebih baik dari pada yang dihadapinya. Atau yang disebut Peter Merkl: “Politk dalam bentuk yang paling baik adlah usaha mencapai suatu tatanan social yang baih dan berkeadilan.
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah usaha untuk menentukan peraturan – peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat ke arah kehidupan bersama yang harmonis. Usaha menggapai the good life ini menyangkut bermacam-macam kegiatan yang antara lain menyangkut proses penentuan tujuan system, serta cara-cara melaksanakan tujuan itu.

Negara merupakan suatu organisasi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya. Para sarjana yang menekankan Negara sebagai inti dari politik, memusatkan perhatiannya pada lembaga-lembaga kenegaraan serta bentuk formalnya. Definisi-definisi ini bersifat tradisional dan agak sempit ruang lingkupnya.
Kemudian para pakar politik mendiskripsikan politik untuk Negara berbeda tetapi mempunyai esensi yang sama, seperti J. Barents, dalam buku ilmu politika: “Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kehidupan bermasyarakat; ilmu politik mempelajari  Negara dan bagaimana begara tersebut melakukan tugas serta fungsinya.”

Teori negara yang dinyatakan sebagai bentuk persekutuan hidup yang akrab di antara warga negara untuk menciptakan persatuan yang kukuh. Untuk itu perlu dibentuk negara kota (Polis). Asal mula negara, Negara dibentuk berawal dari persekutuan desa dan lama kelamaan membentuk polis atau negara kota. Tujuan negara harus disesuaikan dengan keinginan warga negara merupakan kebaikan yang tertinggi. Aristoteles berpendapat sumbu kekuasaan dalam negara yaitu hukum.Oleh karena itu para penguasa harus memiliki pengetahuan dan kebajikan yang sempurna. Sedangkan warga negara adalah manusia yang masih mampu berperan.
Dari berbagai uraian diatas dapat disimpulkan bahwa definisi poltik suatu Negara dapat disingkronkan dengan bentuk Negara saat ini, karena tujuan suatu masyarakat dalam Negara hanya satu yaitu menciptakan kebaikan dalam Negara itu dan mewujudkan cita-cita yang diimpikan bersama.

Daftar Pustaka
Buku:
J. Barents. Ilmu Politika: Suatu perkenalan Lapangan, terjemahan L.M. Sitorus (Jakarta: P.T. Pembangunan. 1965)
Peter H, Merkl. Continuity and Change (New York: Harper and Row. 1967)
Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik: 2008. Jakarta
Webside:

Read more ►

Rabu, 22 Februari 2012

Korupsi, Tanggung Jawab Siapa?

0 komentar


Pertanyaan dalam judul di atas sangat sederhana, bahkan, barangkali, naif. Namun, jawabannya tidak akan pernah sederhana, dan juga tidak mungkin akan naif, kecuali jika direkayasa sebagai pembenaran belaka (justification). Contoh sederhana adalah apa yang terbentang luas di hadapan negeri ini. Banyak lembaga pengawasan, korupsi juga kian menggila. Anehnya, perbandingan antara koruptor yang ditangkap dan
jumlah korupsi yang ditengarai tidaklah sepadan sama sekali. Ibarat membandingkan semut dengan gajah.
Sejak awal keberadaannya, sesuai Keppres 31 Tahun 1983, BPKP telah memangku tugas pokok: mempersiapkan perumusan kebijaksanaan pengawasan keuangan dan pengawasan pembangunan, menyelenggarakan pengawasan umum dalam penggunaan dan pengurusan keuangan, menyelenggarakan pengawasan pembangunan. Pelaksanaan tugas pokok tersebut terjabarkan dalam 16 (enambelas) fungsi, yang salah satunya adalah: “melaksanakan pengawasan khusus terhadap kasus-kasus tidak lancarnya pelaksanaan pembangunan dan kasus-kasus yang
diperkirakan mengandung unsur penyimpangan yang merugikan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah.” Ke-15 (limabelas) fungsi lainnya adalah dalam rangka pengawasan dalam perbaikan manajemen. Untuk melaksanakan pemeriksaan khusus, BPKP memperoleh masukan sebagai dasar pendalaman dari pengaduan masyarakat dan pengembangan dari hasil pemeriksaan. Tugas yang harus dilaksanakan adalah mengungkapkan: a)
keterjadian penyimpangan; b) adanya bukti kerugian keuangan Pemerintah; c) adanya bukti orang atau badan yang melakukan penyimpangan; d) adanya bukti orang atau badan yang menikmati hasil penyimpangan. Jika diketemukan bukti-bukti tersebut, maka kasusnya akan diteruskan ke aparat penegak hukum, yaitu Kejaksaan Agung untuk diproses sesuai hukum yang berlaku. Penyelesaian kasus tersebut sangat tergantung dari proses hukum, mulai dari penyelidikan hingga pemeriksaan di pengadilan. Selama ini, banyak yang mengamati bahwa proses pemeriksaan di pengadilan seringkali cenderung melemahkan
temuan pemeriksaan, sehingga apa yang telah dihasilkan oleh BPKP tidak terungkap atau tidak terbukti di pengadilan. Lantas, siapa yang harus bertanggungjawab memberantas korupsi? Korupsi itu, apa?
Menurut kamus Bahasa Indonesia, korupsi adalah perbuatan busuk, penyelewengan, penggelapan untuk
kepentingan pribadi. Sedangkan UU Nomor 3 Tahun 1999, unsur-unsur korupsi adalah: dilakukan oleh orang atau badan, adanya perbuatan melawan hukum, menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau badan, dan dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Dalam kehidupan sehari-hari, praktik tindak pidana korupsi sendiri sebenarnya juga seringkali tidak disadari oleh pelaku. Sebagai contoh:
Seseorang menerima sejumlah pembayaran dari petugas perusahaan atau instansi dengan menandatangani kwitansi yang nilainya lebih besar dari jumlah yang diterima Pada kasus demikian, orang yang bersangkutan merasa tidak bersalah, dengan berfikir bahwa kwitansi tersebut tidak berhubungan dengan kewajibannya, di mana yang penting uang diterima sesuai permintaan, meskipun berakibat bahwa perusahaan atau instansi harus mengeluarkan uang lebih besar dari yang seharusnya. Kelebihan pembayaran adalah menjadi hak petugas yang bersangkutan.
Kasus di atas memenuhi unsur tindak pidana korupsi, karena: Pertama; yang menandatangani kwitansi telah
melakukan penyimpangan dengan memberik keterangan palsu atau tidak benar; Kedua; menguntungkan petugas perusahaan; Ketiga; dapat merugikan keuangan negara atau perusahaan, Keempat; dilakukan oleh yang menandatangani kwitansi. Apabila seseorang membeli mobil atau motor bekas dengan tidak mengisi tanggal pembayaran. Dengan tidak mengisi tanggal pembayaran, maka pembeli mobil atau motor tidak harus membayar bea balik nama dengan segera. Padahal, sesuai ketentuan, paling lambat dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah perpindahan kepemilikan, pemilik baru harus melaporkan perpindahan kepemilikan tersebut dan membayar bea balik nama. Tindakan tidak memberi tanggal pada kwitansi bagi yang menjual bukan menjadi sesuatu masalah, karena yang penting uang sudah diterima. Tapi bagi pembeli, tidak diberi tanggal kwitansi berarti tidak akan segera balik nama, berarti tidak perlu segera membayar bea balik nama.
Kasus di atas mengandung unsur tindak pidana korupsi, karena: Pertama; dilakukan oleh yang menandatangani kwitansi; Kedua; tidak memberi tanggal berarti memberi keterangan palsu, Ketiga; merugikan keuangan negara/daerah, karena tidak segera membayar bea balik nama, Keempat; menguntungkan pihak pembeli. Jika seseorang menandatangani kwitansi pembelian tanah dengan nilai lebih rendah dari jumlah yang diterima. Dengan kwitansi yang lebih rendah berarti baik pembeli maupun penjual akan membayar pajak terkait lebih rendah dari yang seharusnya. Tindakan ini memenuhi unsur tindak pidana korupsi, karena:

  • l Yang melakukan adalah yang menandatangani kwitansi
  • l Menguntungkan pihak penjual dan pembeli karena membayar pajak lebih kecil
  • l Merugikan keuangan negara karena pajak yang diterima negara lebih kecil
  • l Melakukan penyimpangan karena menandatangani tidak sesuai dengan jumlah yang diterima
  • dan sadar telah dilakukan oleh kelompok masyarakat umum. Hal lain yang dapat dikelompokkan memenuhi unsur

tindak pidana korupsi adalah:

  • l menggunakan mobil dinas (bukan mobil pejabat) untuk kepentingan pribadi
  • l tidak memerintahkan pindah dari rumah dinas walaupun sudah tidak berdinas
  • l menyewakan aula kantor dan hasilnya untuk dana kesejahteraan karyawan
  • l menggunakan ruang kantor untuk pendidikan suatu yayasan tanpa sewa
  • l menggunakan sisa hasil pungutan ujian negara untuk kepentingan yayasan
  • l menggunakan ruang kantor untuk toko koperasi karyawan tanpa sewa
  • l tidak mencantumkan bukti potongan pembayaran pada bukti pembayaran dan memanfaatkan penerimaan potongan

untuk dana kesejahteraan karyawan Selama hal-hal di atas tidak bisa dienyahkan, maka pemberantasan korupsi hanya akan menjadi sebuah utopia. Memang, tindakan-tindakan sebagaimana dicontohkan di atas terasa kental keberadaannya, meskipun seringkali sulit menemukan pembuktian keterjadiannya. Misalnya, bukti surat sebagaimana diatur dalam KUHAP adalah kwitansi yang ditandatangani. Namun, kalau masyarakat tidak mengakui bahwa kwitansi yang telah ditandatangani adalah salah, maka bagaimana mungkin pemberantasan korupsi dapat dilaksanakan. Oleh karena itu, pertanyaan sederhana yang harus diulang adalah siapakah yang harus bertanggungjawab terhadap korupsi, apakah:

  • l Orang yang menandatangani kwitansi?
  • l Orang yang membayarkan uangnya?
  • l Orang yang mengetahui tetapi tidak melapor?
  • l Aparat pengawasan yang tidak mampu mendeteksi adanya penyimpangan tersebut?

Dalam praktik pemeriksaan, seringkali diketemukan penyimpangan, tetapi kebanyakan berbenturan dengan
kenyataan bahwa kesimpulan hasil pemeriksaan harus berhadapan dengan bukti yang diperlukan, sementara bukti yang dimiliki telah memenuhi unsur bukti, dan hasil konfirmasi dari yang menerbitkan bukti adalah benar, dan hasil analisis bukan merupakan bukti, maka apa yang anggapan pemeriksa bahwa telah terjadi penyimpangan seringkali menjadi tidak mampu diungkapkan.
Masalah-masalah kecil tapi mendasar sebagaimana diungkapkan di atas adalah salah satu alasan mengapa
pemeriksaan seringkali gagal mengungkap tindak pidana korupsi. Kegagalan dimaksud juga bukan lantaran semata ketidaksungguhan aparat, melainkan karena adanya kecenderungan masyarakat umum secara tidak sadar dan sadar tidak mendukung secara riil upaya menghilangkan korupsi dari negara tercinta ini.
Jika budaya tertib masyarakat telah tercipta, bisalah diharapkan efektivitas pemberantasan korupsi. Dengan
demikian, diperlukan keikutsertaan seluruh komponen bangsa, untuk memulai dari yang kecil-kecil, sehingga tercipta sebuah iklim kondusif untuk mengenyahkan tindak pidana korupsi yang besar-besar, yang seringkali tidak terjamah oleh kepastian hukum.


Read more ►

Puisi-Wisuda Ancaman

0 komentar


Toga telah menahta
Hanya kebanggaan hati
Ya…..
Anakku, Cucuku, Pacarku, Pamanku
Telah selesai

Mereka hanya melihat sesaat
Sesaat yang singkat
Ini bukan!!!
Beban tanpa status
Kebanggaan selembar ijazah

Hey, lihat…
Aku sarjana
Banyak seperti aku
Tapi negeri ini???
Masih saja merengek-rengek

Ma, malu aku sama ibu
Ibu pertiwi Ma
Aku belum dapat merubah
Merubah dewasa
Dewasa dunia ini
Read more ►

Puisi-Sorak

0 komentar


Sorakan tangis
Tangis pembela
Langit menghujam ria
Read more ►
 

Copyright © Goresan Pena Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger